Saat Tantrum Melanda: Pelajaran dari Pengalaman Ibu di Pulaubangkit

Akhir pekan lalu, saya dan suami memutuskan ngajak Gia, anak kami yang baru tiga tahun, ke taman dekat rumah di Pulaubangkit. Cuaca cerah, saya sudah membayangkan senyumnya saat melihat ayunan. Tapi baru lima menit sampai, Gia tiba-tiba meraung. Ia tidak mau duduk di stroller, tidak mau digendong, malah menjatuhkan diri ke tanah sambil nendang-nendang. Beberapa ibu melirik. Saya malu, tapi lebih dari itu saya bingung. Kenapa tiba-tiba tantrum? Bukankah seharusnya ia senang?
Belajar Membaca Bahasa Tantrum
Tantrum, menurut Wikipedia Indonesia, adalah ledakan emosi yang biasa terjadi pada anak usia satu sampai empat tahun. Lewat kejadian itu, saya mulai paham bahwa tantrum bukan serangan buat saya, melainkan cara anak berkomunikasi saat belum bisa merangkai kata. Gia lelah setelah perjalanan, lapar karena belum makan camilan, dan kelebihan stimulasi karena banyak orang di taman. Otak balita belum mampu ngatur emosi seperti kita dewasa. Jadi, apa yang saya lakukan? Saya duduk di sampingnya, tidak memarahi atau memaksanya berhenti. Saya bilang pelan, “Ibu tahu Gia capek, ayo kita istirahat di bawah pohon sebntar.” Butuh sepuluh menit, tapi tangisnya mulai mereda.
Dari pengalaman demi pengalaman, saya belajar bahwa respons paling baik adalah validasi. Memeluk, mengakui perasaannya, dan memberi pilihan sederhana seperti “Kamu mau minum dulu atau peluk boneka?” lebih efektif daripada ancaman atau bujukan. Saya juga sadar bahwa konsistensi rutinitas membantu mengurangi pemicu tantrum. Tidur cukup, jadwal makan teratur, dan waktu tenang di rumah bikin Gia lebih stabil. Ini bukan ilmu instan, melainkan proses cobaa-coba yang saya jalani hampir setahun.
Tidak ada orangtua yang sempurna. Saya masih sering salah langkah, tetapi setiap kali Gia tantrum, saya ingat bahwa ia hanya butuh seseorang yang ngerti dunianya yang kecil dan rumit. Menjadi ibu di Pulaubangkit mengajarkan saya untuk lebih sabar, lebih hadir, dan lebih percaya bahwa emosi anak adalah bahasa yang perlu dipelajari, bukan dilawan. Bangeet pelajaran berharga.
