Parenting ParentingCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
parenting

Parenting Pemula: Belajar Menjadi Orangtua Tanpa Menuntut Kesempurnaan

Panduan parenting pemula yang hangat untuk memahami kebutuhan anak, mengelola emosi, dan membangun rutinitas keluarga tanpa tuntutan sempurna.

15 Jun 2026 · 2 menit baca · oleh Tiara Kartono
Parenting Pemula: Belajar Menjadi Orangtua Tanpa Menuntut Kesempurnaan

Hari pertama menjadi orangtua terasa seperti menerima tugas besar tanpa buku petunjuk. Saya masih ingat malam-malam awal di Pulau Bangkit, ketika tangisan bayi membuat saya panik dan mempertanyakan keputusan sederhana, seperti kapan harus menggendong atau menidurkan anak. Setelah tiga tahun menulis tentang keluarga dan menjalani pengasuhan sehari-hari, saya menyadri bahwa parenting pemula bukan perlombaan menjadi orangtua sempurna. Ini proses mengenali anak, memahami diri sendiri, lalu belajar memperbaiki langkah dari waktu ke waktu.

Orangtua memeluk anak kecil di rumah dengan suasana hangat

Memulai Pengasuhan dari Hal yang Paling Dekat

Orangtua baru sering mencari aturan lengkap sebelum merasa siap. Padahal, kebutuhan anak biasanya berawal dari hal sederhana: merasa aman, didengarkan, cukup beristirahat, dan memiliki orang dewasa yang hadir secara konsisten. Rutinitas kecil seperti menyambut anak setelah bangun, makan bersama, atau membacakan cerita sebelum tidur dapat membantu anak mengenali pola harian.

Saya pernah menetapkan jadwal tidur yang terlalu ketat untuk anak. Ketika jadwal itu tidak berjalan, saya merasa gagal. Setelah mengamati dengan lebih tenang, saya melihat bahwa anak sedang tumbuh dan kebutuhannya berubah. Jadwal tetap berguna, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi anak, kesehatan, serta kegiatan keluarga.

Orangtua pemula juga perlu belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Anak yang menangis belum tentu sedang mencari perhatian secara negatif. Ia mungkin lelah, lapar, tidak nyaman, atau belum mampu menyampaikan perasaannya. Kalimat sederhana seperti, “Kamu kecewa karena waktunya bermain sudah selesai,” dapat membuat anak merasa dipahami. Setelah itu, batasan tetap bisa disampaikan dengan tenang.

Bagi ibu yang bekerja, pembagian peran di rumah perlu dibicarakan secara terbuka. Mengurus anak bukan tanggung jawab satu orang saja. Saya dan pasangan mulai membagi tugas berdasarkan waktu dan tenaga yang tersedia, bukan berdasarkan anggapan bahwa salah satu pihak pasti lebih mampu. Rumah memang tidak selalu rapi, tetapi suasananya terasa lebih ringan ketika kebutuhan keluarga ditangani bersama.

Orangtua juga berhak beristirahat. Meminta bantuan dari pasangan, keluarga, atau pengasuh bukan tanda kegagalan. Saat tubuh dan pikiran lebih terjaga, kita lebih mampu merespons perilaku anak dengan sabar. Kalau emosi terasa sulit dikendalikan atau muncul terus-menerus, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang bijaksana Ringkasannya pernah saya buat di parenting balita.

Menjadi orangtua di Pulau Bangkit mengajarkan saya bahwa setiap keluarga memiliki ritme yang berbeda. Tidak semua saran cocok diterapkan begitu saja. Ambil informasi yang relevan, amati respons anak, dan beri ruang untuk belajar. Anak tidak membutuhkan orangtua tanpa kesalahan. Anak membutuhkan kehadiran, kasih sayang, dan orang dewasa yang bersedia terus bertumbuh bersamanya, meski kadang perlu berhenti sebntar untuk menarik napas.

Bahan bacaan: sumber resmi

Tag: #parenting pemula #pengasuhan anak #orangtua muda