Parenting ParentingCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
parenting

Saat Tantrum Datang di Tempat Umum: Cerita Ibu di Pulaubangkit

Kisah seorang ibu menghadapi tantrum balita di mal. Pelajari cara tenang mengelola emosi anak tanpa drama, berdasarkan pengalaman di Pulaubangkit.

8 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Tiara Kartono
Saat Tantrum Datang di Tempat Umum: Cerita Ibu di Pulaubangkit

Jumat sore itu saya dan Alvaro, anak saya yang baru genap tiga tahun, antri di kasir supermarket. Tiba-tiba ia menjerit minta permen cokelat yang terpajang di rak dekat kasir. Saya jelaskan nggak hari ini, jeritannya makin keras, kakinya menendang-nendang keranjang belanja. Beberapa pasang mata menoleh ke arah kami. Napas saya menahan, muka memanas. Tapi saya ingat apa yang saya baca di artikel IDAI tentang tantrum: ini bukan pemberontakan, melainkan luapan emosi yang belum bisa ia kendalikan.

Menghadapi Badai Kecil dengan Hati Tenang

Kuncinya satu: saya harus tetap tenang dulu, baru menenangkannya. Alih-alih memarahi atau menyerah pada permintaannya, saya berlutut sejajar dengan Alvaro, menatap matanya, dan berbisik, “Mainan, Nak. Ini hanya permen yang nggak akan bikin kamu kenyang.” Ia justru makin meronta. Saya lalu menggendongnya ke sudut yang lebih sepi di dekat taman kecil di mal itu. Di sana saya hanya memangku dia, tanpa bicara, selama beberapa menit. Perlahan tangisnya mereda, diganti isakan pelan. Saya usap punggungnya dan bilang, “Kita cari minum dulu, yuk.” Ia ngangguk.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa tantrum bukan musuh. Ini bagian normal tumbuh kembang balita yang otaknya masih berkembang, terutama bagian yang mengatur emosi. Menurut Wikipedia, tantrum lazim terjadi pada anak usia 1–4 tahun dan bisa dipicu oleh kelelahan, lapar, atau keinginan yang nggak terpenuhi. Yang saya lakukan adalah validasi perasaannya — bukan membiarkan perilaku, tapi mengakui bahwa ia kecewa. Saya nggak langsung memberi sesuatu, melainkan mengalihkan perhatian ke aktivitas lain Bagian yang belum sempat saya tulis ada di parenting.

Kuncinya adalah rutin, konsisten, dan sabarr. Saya terapkan hal yang sama di rumah: waktu makan, waktu tidur, batasan yang jelas. Tapi di tempat umum, tantrum terasa lebih berat karena ada tekanan sosial. Saya ingat seorang ibu di Pulaubangkit pernah bilang, “Jangan pedulikan tatapan orang, fokus pada anak.” Kata-kata itu nempel.

Setiap tantrum yang reda adalah kemenangan kecil. Anak belajar bahwa emosinya bisa diatur, saya belajar bahwa cinta tidak selalu berarti menuruti semua keinginan. Itulah parenting balita: bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang hadir dan tumbuh bersama.

Ibu menenangkan balita yang menangis di sudut mal

Sumber lanjutan: sumber resmi

Tag: #parenting #balita #tantrum #pengasuhan